Oleh: Jack Paridi
MAMUJU, MATALENSA.ID-Merajut dalam memori kolektif rakyat Indonesia konon,adalah bangsa yang besar bangsa yang mampu mendaulat rakyat untuk merdeka di negri sendiri.
namun dalam rentetan perjalanan waktu, seiring juga dengan tindakan dan praktek praktek kolaborasi birokrasi dengan antek-antek asing untuk mengeruk kekayaaan sumber daya alam Indonesia.
transisi dari kepemimpinan negara seolah menjadi sebuah rutinitas untuk menggugurkan tanggung jawab sebagai negara demokrasi dan identitas kedaulatan negara.
kongres pemuda pada tanggal 26-28 Oktober 1928 adalah moment yang sangat menyejara di kalangan para pemuda.
Indonesia memiliki banyak suku diikuti dengan banyaknya jenis bahasa,adat,agama,juga kepercayaan.
setidaknya dari pemetaan dia atas bisa mengantarkan kita pada gambaran besar untuk membaca negara INDONESIA yang di huni oleh pemerintah dan rakyat.
berfikir sampai tidak berfikir, tertawa sampai berduka, bekerja sampai tidak bekerja,tertindas sampai penindas.
yang kutahu, ini adalah dinamika bernegara di Indonesia.
di era 2000an hampir tidak terhitung dalam Angka soal terjadinya transisi dalam bernegara bahkan dalam berkehidupan sampai bermasyarakat.
awalnya mari kita coba bicara soal transisi pemegang pemerintahan bahkan transisi sistem pemerintahan (birokrasi ataupun birokrat).
namun ternyata seiring transisi di atas bisa kita katakan bahwa transisi itu mempunyai pengaruh besar atau interfensi yang cukup berjalan dan tersusun dengan rapi.
jadi bisa kita simpulkan bahwa transisi tidak selamanya berjalan secara sendiri tanpa mempengaruhi keadaan lainnya.misalnya transisi sistem yang berujung pada transisi kondisi sosial, entah kita kondisi sosial yang semakin berkembang atau, bahkan semakin bercanda.
kita akan mencoba bicara soal kasus transisi birokrasi., birokrat,sampai di akar rumput dari 1999 sampai pada 2021, terdapat di sebagian kalangan yang tak merasa efek dari transisi tersebut.
pemuda yang memerani zaman zaman penjajahan bukan lah pemuda yang terorganisir oleh zaman, dan bukan pula pemuda yang berkumpul untuk mendiskusikan kepentingan diri sendiri, kepentingan keluarga bahkan kepentingan kumpulan itu sendiri.
tapi mereka berkumpul atas dorongan peristiwa sosial yang menekan kondisi rakyat Indonesia pada saat itu.
sumpah pemuda yang di seakan di jadikan sebuah seremonial di tiap tahunnya menjadi sebuah kebiasaan pemuda untuk memaknai hari sumpah pemuda sebagai ajang mengkampanyekan bahwa sejara pemuda adalah sejara perlawanan penjajah.,seakan penjajahan tidak lagi dirasakan oleh rakyat indonesia
penindasan gaya baru justru hadir dan semakin mengakar dan lebih di moderenkan.sejarah mencatat perjuangan para pemuda di sejara berjuang melalui kontak senjata dan pengorbanan jiwa demi meruntuhkan jaring jaring imprealisme.
turunan dari pada penindasan itu dibungkus menjadi sebuah penindasan gaya baru melalui regulasi dan kebijakan kebijakan birokrasi yang sangat tidak berpihak pada petani nelayan buruh dan kaum miskin kota.
tentunya benturan dari peristiwa sosial adalah objek perlawan yang harus di laksanakan oleh kaum pemuda yang harusnya melanjutkan semangat pemuda yang telah berkumpul merumuskan sumpah pemuda.


