Oleh: Jack Parodi.
MAMUJU,MATALENSA.ID– Hari lahir Raden adjeng kartini ditetapkan menjadi hari besar Nasional oleh Presiden Soekarno
Langit yang begitu cerah menyambut miliyaran perempuan pada hari itu hari itu tak ada setitik pun air hujan yang jatuh dari permukaan langit di tanggal 21 April 2021.
Sosok perjuangan Raden Adjeng Kartini menjadi simbol emansipasi wanita bisa artinya bahwa kartini adalah seorang aktor di balik perempuan hebat yang lahir dan masih bertahan sampai detik ini.
Sosok kartini bahkan telah dikenal luas dikalangan belanda sebelum ajal menjemputnya
Pembicaraan tentang kartini telah dikenal saat masi aktiv menulis pemberitaan dengan bahasa belanda.
Tak banyak yang mengungkap bahwa kartini adalah seorang muslimah kritis dan memiliki kedalaman spritualis yang begitu tinggi hal ini diungkapkan dalam suratnya.
Di sini orang belajar alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca.
Aku pikir,gila orang di ajar membaca tapi tidak di ajar untuk memahami aku pikir,tanpa harus jadi orang soleh pun yang penting jadi orang baik hati bukan begitu stella?
Kartini 6 november 1899.
Jika hanya menjadi penggemar kartini sejati, perempuan mana saja bahkan pelacur sekalipun pun bisa menjadikan kartini sebagai panutan.
Namun sedikit kaum perempuan yang mewarisi semangat juang dan militansi Raden Adjeng kartini yang lahir di era hindia belanda, dan tak sekedar mengugurkan tanggung jawab sebagai perempuan.
Kita tidak pernah kehabisan cerita untuk mengkritik bahkan menjadikan sejara perjungan sebagai alat baca hari ini, namun pada kenyataannya tak lagi demikian
Perempuan di era setelah kartini tak begitu tersorot yang menyamai sosok kartini apakah kuatnya paradigma patriarki di sebagin besar masyarakat indonesia ?atau mungkin perempuan yang lahir diera hari ini minim bicara soal kesadaran dan mungkin buta akan objek yang membuatnya harus melakukan perlawanan.
Jika bicara soal objek perlawanan,kartini lahir pada jaman penindasan yang begitu jelas.
Namun jika bicara soal konteks hari ini perempuan seharusnya mampu untuk menjadikan sejarah Raden Ajeng kartini sebagai pupuk.
kita tak akan perna lupa dan masi terngiang ngiang di ingatan kita bicara soal ; pemiskinan, anka kematian ibu yang tak kunjung turun angka buta huruf perempuan yang terus meningkat angka putus sekolah perempuan yang tinggi angka perkawinan di bawa umur masih terus dilaksanakan, pelacuran anak PHK massal yang menyerang perempuan.
Tanpa kita sadari ada cerminan hukum. Meskipun hukum di indonesia hari ini tajam ke bawah tumpul ke atas tapi setidaknya perempuan bisa saja bergenarasi melalului pembangunan ke sadaran di tingakat perempuan
Apakah sistem ini di sebut dengan patriarki? Yang sudah ada sejak pedaban masyarakat, namun sering muncul pertanyaan demikian, kapan penindasan gender terjadi? Dan mengapa? (*)


