Home › Mamuju
GMNI Mamuju Suarakan Tiga Tuntutan Lewat Panggung Ekspresi

MAMUJU, MATALENSA.ID – Memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2026, Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Mamuju menggelar Panggung Ekspresi dengan mengusung tema “Sejarah Indonesia adalah Sejarah Pemuda”.
Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi sejarah perjuangan bangsa sekaligus wadah bagi kaum muda untuk menyampaikan kritik dan menyuarakan berbagai persoalan yang membutuhkan perhatian pemerintah.
Dalam kegiatan itu, kader DPC GMNI Mamuju mengawali agenda dengan pembacaan ikrar Sumpah Pemuda secara bersama-sama sebagai bentuk penghormatan terhadap semangat persatuan dan perjuangan generasi muda.
Namun, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi seremoni peringatan. GMNI Mamuju juga menyampaikan konferensi pers berisi tiga tuntutan utama kepada pemerintah dan aparat penegak hukum.
Pertama, mendesak Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional. GMNI menilai persoalan karhutla membutuhkan penanganan serius dan terkoordinasi dari pemerintah pusat, terutama dalam perlindungan masyarakat, penanggulangan bencana, serta pemulihan wilayah terdampak.
Kedua, mendesak aparat penegak hukum (APH) mengusut tuntas dugaan korupsi dana siap pakai untuk penanggulangan bencana karhutla. GMNI menegaskan bahwa anggaran penanggulangan bencana harus dikelola secara transparan dan akuntabel. Setiap dugaan penyimpangan harus ditindaklanjuti melalui proses hukum yang profesional dan berdasarkan bukti.
Ketiga, mendesak Presiden Prabowo Subianto mencabut Izin Usaha Pertambangan (IUP) eksplorasi logam tanah jarang (LTJ) milik PT Perminas di Sulawesi Barat.
GMNI Mamuju menilai pengelolaan sumber daya alam tidak boleh hanya berorientasi pada kepentingan investasi, tetapi juga harus memperhatikan keselamatan lingkungan, kepentingan masyarakat, dan prinsip keadilan sosial.
Bagi GMNI Mamuju, Hari Sumpah Pemuda bukan sekadar agenda tahunan yang diperingati secara seremonial. Momentum tersebut merupakan pengingat bahwa pemuda memiliki tanggung jawab historis untuk mengawal kebijakan publik dan memperjuangkan kepentingan rakyat.
Tema “Sejarah Indonesia adalah Sejarah Pemuda” menjadi penegasan bahwa perubahan tidak lahir dari sikap diam, melainkan melalui keberanian berpikir kritis, bersikap tegas, dan bertindak demi kepentingan bersama.
Melalui Panggung Ekspresi, DPC GMNI Mamuju menegaskan bahwa semangat Sumpah Pemuda harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Pemuda tidak boleh kehilangan daya kritis, terutama dalam menyikapi persoalan bencana, dugaan penyalahgunaan anggaran, hingga kebijakan pengelolaan sumber daya alam.
Panggung tersebut sekaligus menjadi ruang membangun kesadaran kolektif dan memperkuat keberpihakan terhadap rakyat.
GMNI Mamuju menegaskan perjuangan pemuda tidak berakhir setelah ikrar Sumpah Pemuda dibacakan. Perjuangan akan terus berlanjut selama keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat masih menjadi cita-cita yang harus diwujudkan.
Sumpah Pemuda bukan sekadar warisan sejarah, melainkan mandat perjuangan. Pemuda harus terus bersuara, bergerak, dan berdiri bersama rakyat. (*)


