Jakarta,  – Pada perdagangan hari ini Selasa (4/12), harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) kontrak Februari 2019 di Bursa Derivatif Malaysia melesat 1,25%  level MYR 2.025/ton, hingga pukul 14.15 WIB.

Harga komoditas unggulan agrikultur Malaysia dan Indonesia ini mampu rebound signifikan, pasca kemarin amblas nyaris 2%.

Harga CPO mendapat energi positif dari penguatan harga minyak kedelai merespon hasil positif pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di sela-sela KTT G-20.

Kemarin, harga CPO tertekan hebat oleh ekspektasi melambungnya stok minyak kelapa sawit Malaysia di penghujung tahun 2018. Malaysia sendiri merupakan produsen dan ekspotir CPO terbesar kedua di dunia

Produksi Negeri Jiran memang diekspektasikan meningkat di 2 bulan terakhir tahun ini, sesuai dengan pola musimannya. Di saat produksi sedang kencang, permintaan malah cenderung lesu. Tak pelak, melambungnya stok pun tidak terelakkan.

Penyebab lesunya permintaan adalah stok minyak kedelai di India (importir CPO terbesar dunia) yang sedang tinggi-tingginya, sehingga mengurangi permintaan CPO. Sedangkan, permintaan dari Eropa dan China juga berkurang karena berlangsungnya musim dingin. Sebagai catatan, minyak kelapa sawit akan memadat pada cuaca yang dingin.

Sentimen negatif lainnya bagi permintaan CPO adalah kebijakan pemerintah Indonesia yang menetapkan pungutan ekspor CPO menjadi US$ 0 per ton alias dinolkan, menyusul harga komoditas ini yang merosot.

Dengan adanya “pembebasan” pungutan ekspor di RI, produsen CPO di tanah air pun bisa berada di posisi yang lebih menguntungkan, atau minimal setara, dibandingkan dengan produsen di Malaysia. Alhasil, situasi ini berpotensi membuat ekspor CPO Malaysia akan semakin tertekan.

Adapun dari Indonesia yang merupakan produsen dan eksportir terbesar dunia, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) kemarin melaporkan stok minyak kelapa sawit RI menurun ke angka 4,41 juta ton pada bulan Oktober, dari bulan sebelumnya sebesar 4,6 juta ton.

Walau mengalami penurunan, jumlah tersebut nampaknya masih dianggap masih cukup tinggi oleh pelaku pasar. Secara tahunan (year-on-year/YoY), stok minyak kelapa sawit RI di Oktober naik di kisaran 30%.

Melimpahnya pasokan di Malaysia dan Indonesia lantas sukses memukul harga CPO kemarin. Bahkan, hingga perdagangan sesi 1 hari ini, harga CPO masih tercatat melemah tipis 0,95%.

Beruntungnya, harga CPO mampu balas dendam pada sisa perdagangan hari ini, merespon  aura damai dagang AS-China yang mulai merasuk. Melalui momen KTT G-20 di Argentina akhir pekan lalu, Washington-Beijing mencapai kesepakatan 90 hari gencatan senjata dalam sengketa perdagangan.

AS tidak akan menaikkan tarif bea masuk dari 10% menjadi 25% untuk importasi produk-produk made in China sebesar US$ 200 miliar yang seyogianya dilakukan pada 1 Januari 2019. Sedangkan China sepakat untuk mengimpor lebih banyak dari AS, mulai dari produk pertanian, energi, sampai manufaktur.

Dari perkembangan teranyar, hawa damai dagang bahkan semakin semerbak. Mengutip Reuters, China bersedia meningkatkan impor produk-produk made in USA senilai US$ 1,2 triliun. Tidak hanya itu, China juga akan menghapus bea masuk untuk impor mobil dan hambatan non-tarif.

Dengan adanya prospek perdamaian dagang antar dua negara ini, harga minyak kedelai pun melambung tinggi. Komoditas agrikultur ini memang menjadi salah satu produk yang paling terdampak dari memburuknya hubungan perdagangan antara AS-China.

Kini muncul harapan bahwa Washington-Beijing bisa mengakhiri perang dagang untuk selamanya. Hal ini menjadi sentimen positif bahwa arus perdagangan kedelai akan kembali lancar ke depannya, tanpa hambatan bea masuk.

Pada penutupan perdagangan kemarin, harga minyak kedelai kontrak Januari 2019 di Chicago Board of Trade (CBoT) melambung nyaris 2%. Ketika harga minyak kedelai naik, kecenderungannya adalah harga CPO akan ikut menguat, karena dua komoditas ini berebut pangsa pasar minyak nabati global.

Penguatan harga CPO juga ditopang oleh kenaikan harga minyak mentah dunia. Hingga pukul 11.35 WIB hari ini, harga minyak mentah jenis brent kontrak Februari 2019 melambung sebesar 1,10% ke level US$62,37/barel.

Pada perdagangan kemarin, harga brent bahkan melesat nyaris 4%. Meski komoditas minyak mentah tidak ada di dalam daftar ratusan produk yang dikenai bea masuk oleh AS-China, tapi prospek perbaikan perdagangan dan ekonomi global disambut meriah oleh investor di komoditas minyak.

Pasalnya, sebelumnya permintaan minyak mentah diramal akan menurun drastis akibat perlambatan ekonomi dunia. Kini, pelaku pasar berekspektasi permintaan minyak bisa pulih seperti sedia kala.

Kenaikan harga minyak mentah memang cenderung mengatrol harga CPO yang merupakan bahan baku biofuelBiofuel sendiri merupakan salah satu substitusi utama bagi bahan bakar minyak (BBM). Saat harga minyak dunia naik, produksi biofuel menjadi lebih ekonomis. Hal ini lantas menjadi sentimen bahwa permintaan CPO akan meningkat.

(CNBC Indonesia)